Rabu, 22 Oktober 2025

Pelan-pelan, Aku Belajar Hidup Lagi



Pelan-pelan, Aku Belajar Hidup Lagi.

Ada perjalanan yang tidak semua orang tahu.
Tentang kehilangan, tentang luka yang disembunyikan, dan tentang upaya untuk tetap bertahan ketika hidup terasa berat.

Dari serpihan kisah itu, lahirlah buku ini..
Pelan-pelan, Aku Belajar Hidup Lagi.

Hidup kadang tidak berjalan seperti yang kita harapkan.

Ada masa di mana semuanya tiba-tiba hancur rumah yang dulu ramai mendadak sepi, tawa berubah jadi kenangan, dan seseorang yang dulu kita genggam kini hanya bisa dilihat dari jauh.

Aku pernah sampai di titik itu.

Titik di mana setiap pagi terasa berat, dan malam hanya diisi oleh gelisah dan doa yang menggantung.

Tapi dari semua yang runtuh, aku mulai menemukan sesuatu yang pelan-pelan tumbuh: keberanian untuk hidup lagi.

Postingan pada blog ini bukan tentang kesedihan, tapi tentang perjalanan. Tentang bagaimana seseorang belajar berdamai dengan kehilangan, kekecewaan, tentang luka yang akhirnya berubah jadi kekuatan.

Di sini aku menulis, bukan untuk menghapus masa lalu, tapi untuk menerimanya dengan lebih tenang.

Karena belajar hidup lagi bukan berarti melupakan, tapi belajar mencintai diri sendiri walau sempat hancur di tengah jalan.

"Mungkin aku belum sepenuhnya pulih, tapi setiap tulisan di sini adalah langkah kecil untuk kembali bernapas."

Ini bukan kisah sempurna, tapi tentang seseorang yang berani jujur pada dirinya sendiri bahwa hidup gak harus cepat, asal tetap berjalan, meski pelan-pelan.

Buku yang akan launching ini bukan tentang kesedihan semata, tapi tentang perjalanan pulih. Tentang bagaimana seseorang belajar menerima kenyataan, berdamai dengan masa lalu, dan kembali menata harapan yang sempat runtuh.

Setiap halamannya adalah potongan perasaan yang pernah aku lalui keheningan malam, doa yang terucap lirih, hingga keberanian untuk mulai lagi meski takut terluka.

Buku ini Aku tulis bukan hanya untuk mereka yang pernah kehilangan, tapi juga untuk siapa pun yang sedang belajar bangkit perlahan-lahan.

Kini, perjalanan itu telah jadi karya.
Dan dengan hati penuh rasa syukur, Aku mempersembahkannya untukmu semua.

Selamat datang di ruang kecilku.

Tempat di mana aku menulis, menangis, dan Pelan-pelan, Aku Belajar Hidup Lagi.


Penulis, Unggul Setiawan

Jakarta, 22 Oktober 2025




Rabu, 06 Agustus 2025

Amirah Alasan Ayah Hidup, sebuah buku kecil dari Ayah untuk Amirah

Amirah, Alasan Ayah Hidup

Kalau suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini, mungkin ayah sudah tidak bisa lagi menemanimu setiap hari. Tapi percayalah, Amirah... tidak ada satu detik pun dalam hidup ayah yang berlalu tanpa memikirkanmu. Kamu adalah cahaya kecil yang dulu membuat hari-hari ayah jadi berwarna, membuat langkah ayah kuat meski dunia terasa berat.

Amirah, ayah sudah menulis sebuah buku khusus untukmu ditahun 2025 ini, ketika usiamu 2 tahun 7 bulan. Buku itu bukan sekadar kumpulan kata, tapi bagian dari hati ayah sendiri. Di dalamnya, ada doa-doa, nasihat, cerita, dan kenangan yang ayah simpan agar kamu tidak pernah merasa sendirian, bahkan ketika ayah tidak lagi di sisimu, dan Ayah tidak ada lagi didunia ini.

Buku itu akan menjadi pedoman hidupmu, Amirah.
Kalau kamu sedih, bacalah halaman tentang kesabaran.
Kalau kamu bingung, lihat bagian tentang pilihan hidup.
Kalau kamu rindu, bacalah tulisan ayah tentang cinta dan doa.
Dan kalau kamu merasa dunia terlalu berat, peluklah buku itu seolah kamu sedang memeluk ayah.

Ayah menulisnya dengan air mata dan cinta yang tidak pernah habis.
Ayah ingin kamu tahu bahwa hidup ini tidak selalu mudah, tapi kamu akan selalu bisa melewatinya, karena kamu adalah anak yang kuat, baik, dan berhati lembut.
Ayah percaya, kamu akan tumbuh menjadi gadis yang cerdas, penyayang, dan selalu menjaga hatinya agar tetap baik.

Amirah...
Kalau suatu saat kamu bertanya, “Kenapa Ayah menulis semua ini?” . jawabannya sederhana: karena ayah ingin tetap bersamamu, bahkan ketika waktu tidak lagi mengizinkan.
Lewat buku ini, ayah ingin kamu selalu merasa disayangi, dijaga, dan didoakan.

Ingatlah selalu, Amirah…
Kamu tidak pernah sendirian.
Setiap langkahmu, setiap senyummu, setiap doa yang kamu ucapkan. Ada nama Ayah di dalamnya.
Dan selama langit masih ada, cinta ayah tidak akan pernah hilang.

Peluk jauh dari ayah,
yang selalu mencintaimu tanpa akhir,

Putri kecilku yang amat Ayah sayang,

Amirah Jasmine Elnara

dari Ayahmu, Unggul Setiawan